Sementara, di belakang mereka, Kugy
(Maudy Ayunda) sebentar-sebentar menguap. Dia masih berusaha
mengumpulkan nyawa karena tadi selagi tidur, ditarik saja oleh Noni
tanpa sempat mandi dan ganti baju. Tengah Noni merepet ke Eko yang
terdiam pasrah, tanpa aba-aba, Kugy berjalan maju, menyeruak di antara
dua bahu kawannya itu, matanya terpejam, dia memasang “radar” berupa
telunjuk di dua sisi keningnya.
Kugy berjalan terus diiringi pandangan
aneh orangorang di sekeliling. Kakinya kemudian mendadak berhenti
melangkah ketika bertumbukan dengan sesosok cowok. Dia membuka mata dan
menurunkan antena. Inilah Keenan (Adipati Dolken) yang dicari- cari.
Radarnya berhasil.
Keenan yang anak pengusaha di Jakarta
itu akan kuliah di Bandung. Ayahnya yang memerintahkannya mengambil
fakultas ekonomi, meski ketertarikan Keenan di bidang seni. Kugy sendiri
adalah mahasiswa fakultas sastra. Dia indekos di Bandung bersama Noni.
Keduanya juga berasal dari Jakarta. Kugy yang bercita-cita jadi penulis
dongeng ini punya kebiasaan menuliskan jurnal di secarik kertas yang
kemudian dia lipat membentuk perahu. Perahu kertas itu lantas dia
larungkan di sungai.
Kugy, Keenan, Noni, dan Eko kemudian
bersahabat dan memberi nama geng mereka Pura-pura Ninja. Kugy dan Keenan
sebenarnya diam-diam saling jatuh cinta, berangkat dari kekaguman Kugy
pada bakat lukis Keenan dan kekaguman Keenan pada kemampuan Kugy
mendongeng yang sampai menghasilkan piagam. Masalahnya, Kugy sudah punya
pacar di Jakarta, Ojos (Dion Wiyoko). Noni menjodohkan Keenan dengan
sepupunya, Wanda (Kimberly Ryder), seorang kurator galeri. Namun hati
Keenan tetap ke Kugy walau banyak peristiwa terlewati dalam hidupnya:
putus kuliah, putus dari Wanda, tinggal di Bali untuk belajar melukis,
mendapat perhatian Luhde (Elyzia Mulachela) sang gadis Bali, ayahnya
terkena stroke, hingga pindah ke Jakarta untuk menjalankan bisnis
ayahnya. Semoga Anda tidak bingung dengan banyaknya tokoh dan banyaknya
konflik awal ini. Pasalnya tokoh masih bertambah dan konflik juga masih
berkembang mengikuti alur versi novel yang berjudul sama, ditulis Dewi
“Dee” Lestari.
Tak heran jika total durasi film Perahu
Kertas pascaediting mencapai 4,5 jam! Pekerjaan rumah bagi Hanung sang
sutradara untuk memadatkannya jadi hanya 115 menit layaknya film drama
romantis lain. Syukurlah Hanung tidak memenggal cerita di sana-sini yang
dipastikan bakal mengundang protes pembaca novel. Dia mengambil cara
bijaksana dengan membaginya jadi dua judul film, yakni Perahu Kertas
yang mulai “berlayar” pada 16 Agustus 2012 dan sequel-nya dua bulan
kemudian. Dua film dalam sekali waktu syuting. Cara ini selain agar
tidak mengecewakan pembaca novel, juga untuk menjaga detail dan
kompleksnya cerita Perahu Kertas, serta mencegah plot loncat dan
timpang. Dee yang menulis skenario berhasil membuat film ini mengalir
pelan, manis, dan tak membosankan. Di atas semuanya, pemilihan Maudy
Ayunda sebagai Kugy bisa dibilang sebagai prestasi terbaik
Zaskia A. Mecca sebagai penata casting.
Maudy yang berusia 18 tahun membawakan karakter Kugy, mahasiswa yang
“korslet” otaknya, itu dengan pas. Dia benar-benar tampil sebagai
mahasiswa, bukan “agar tampak seperti mahasiswa” seperti yang tiap hari
wira-wiri di sinetron. Perahu Kertas juga menyelipkan kejutan buat
penonton dengan penampilan Hanung dan Titi DJ sebagai cameo. Bukan hanya
cameo-nya yang jadi kejutan, tapi akting mereka walau hanya bicara
beberapa kalimat. Titi DJ jadi ibu Kugy yang nyablak, dan Hanung jadi
kolektor lukisan yang gemulai dan genit dan naksir Keenan, eh naksir
lukisan Keenan. Uuuh cucok, nek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar